TerasIndonesiaNews.com - Sambas, 25 November 2025
Cerita Deva Rahmawani dan Pak Deddy (Ayah Angkat Deva)
Perjalanan hidup Deva Rahmawani bukanlah kisah yang lahir dari kelimpahan, melainkan dari ujian yang dalam dan takdir yang menggugah hati.
Pada awalnya, Deva adalah seorang bayi yang keberadaannya tidak diinginkan oleh kedua orang tua kandungnya. Upaya menggugurkan kandungan dilakukan dengan meminum obat dan ramuan tertentu. Namun kehendak Allah berkata lain. Pada hari Minggu, 15 Juli 2012, Deva terlahir ke dunia—seorang bayi perempuan yang cantik, namun dalam kondisi memprihatinkan. Ia lahir tanpa kulit dari bagian perut hingga kaki, serta mengalami pembusukan akibat keracunan obat selama dalam kandungan.
Pada tanggal 17 Juli 2012, kabar bahwa bayi tersebut akan diadopsikan terdengar oleh tetangga sekitar. Kabar itu kemudian sampai kepada saya. Dengan segera saya mendatangi lokasi tempat bayi itu berada. Saat melihat kondisinya untuk pertama kali, hati saya langsung tersentuh—ada rasa iba, sedih, dan pilu bercampur menjadi satu. Terlebih ketika mendengar bahwa bayi ini sempat hendak diaborsi oleh orang tuanya sendiri.
Dengan perasaan teriris, saya mengambil keputusan untuk mengadopsinya. Hanya keikhlasan yang mampu saya pegang saat itu. Saya berjanji dalam hati, apa pun kehendak Allah akan saya terima. Jika Allah lebih menyayanginya dan memanggilnya kembali, saya rela. Namun jika Allah memberinya kehidupan dan umur panjang, maka saya berjanji akan merawatnya sebagai anak kandung saya sendiri—memberinya kasih sayang yang tidak pernah ia dapat dari orang tua biologisnya.
Hari demi hari kami lewati bersama. Hingga pada 5 Agustus 2012, saya membawa Deva ke rumah sakit karena kondisinya semakin kritis dan jaringan tubuhnya terus memburuk. Berkat ikhtiar para dokter serta doa yang tiada henti, kondisi Deva perlahan membaik. Setelah menjalani perawatan intensif, kami akhirnya diperbolehkan pulang.
Tahun-tahun berlalu, penuh suka, duka, dan kebahagiaan yang kami jalani bersama. Namun, ujian kembali datang sekitar tiga tahun lalu. Deva kembali merasakan kehilangan—kali ini kehilangan sosok yang ia panggil “ibu” setelah saya berpisah dengan istri saya. Cobaan itu kembali menguji ketegarannya.
Namun Deva tetap tumbuh menjadi anak yang kuat, tabah, dan penuh harapan. Dan bagi saya, ia tetap anugerah yang Allah titipkan, yang telah mengajarkan arti cinta, kesabaran, dan keteguhan hati.
Editor: Tim Teras Indonesia News | Narasumber: Deddy (Ayah Angkat Deva) | Penulis: Parhan

