TerasIndonesiaNews.com - Ketapang, 04 Februari 2026
Nurani, Mungkin surat ini tidak ditulis di atas kertas yang wangi, melainkan pada sisa-sisa harapan yang kami kumpulkan setiap hari di jalanan yang berdebu.
Kami adalah orang-orang yang terbangun sebelum matahari, bukan untuk mengejar mimpi, melainkan untuk menyambung nyawa. Bagi kami, keadilan sering kali terasa seperti barang mewah yang harganya tak terjangkau oleh upah harian kami. Kami melihat gedung-gedung tinggi menjulang mencakar langit, sementara atap kami bocor saat hujan, seolah-olah langit pun ikut menangisi nasib kami.
Perjuangan kami bukanlah tentang keserakahan.
Kami tidak meminta emas atau takhta. Kami hanya memperjuangkan:
Hak untuk Kenyang: Agar anak-anak kami tidak tidur dengan perut yang melilit.
Hak untuk Didengar: Agar suara kami tidak dianggap sebagai angin lalu saat kebijakan diputuskan.
Hak untuk Dimanusiakan: Agar kemiskinan kami tidak dijadikan alasan untuk menindas atau merendahkan martabat kami.
Seringkali kami merasa terpojok. Hukum yang katanya tegak lurus, terkadang terasa tumpul ketika berhadapan dengan kami yang tak punya kuasa. Namun, perlu diketahui bahwa kemiskinan tidak mematikan keberanian kami. Di dalam dada yang kurus ini, masih ada api yang menyala untuk menuntut keadilan.
Kami akan terus berjuang. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan ketabahan yang luar biasa. Kami percaya bahwa tidak ada kegelapan yang abadi, dan suatu saat nanti, keadilan tidak lagi menjadi milik mereka yang berduit saja, tapi milik setiap jiwa yang berpijak di bumi ini.
Dari Kami,
Jiwa-jiwa yang menolak untuk menyerah pada ketidakadilan.
Editor : Tim Teras Indonesia News|Sumber : Rulliyadi, SH Lawyer Muda|Penulis : Bima

