TerasIndonesiaNews.com - Pontianak, (Sabtu 29 November 2025)
Polemik lahan kembali memanas di kawasan Jalan Khatulistiwa, Batulayang, setelah muncul pihak yang mengaku sebagai pemilik tanah yang selama ini dikuasai dan didiami oleh saudara Robet. Tanah yang berada tepat di depan pemakaman Tionghoa tersebut telah ditempati Robet dalam waktu yang lama tanpa ada keberatan dari pihak mana pun.
Situasi berubah ketika seseorang bernama Danel, yang disebut terkait dengan perusahaan Baja Sarana, tiba-tiba mengaku sebagai pemilik sah lahan tersebut. Kehadiran klaim baru ini membuat warga sekitar resah karena dikhawatirkan memicu ketegangan.
Edi Samat: Danel Tidak Mau Bertemu untuk Klarifikasi
Melihat persoalan ini, Edi Samat, salah satu tokoh masyarakat yang mengikuti kasus tersebut, mencoba mempertemukan kedua belah pihak agar persoalan dapat diselesaikan secara damai dan jelas. Namun upaya tersebut gagal.
“Saya sudah mencoba mempertemukan Robet dan saudara Danel, tapi Danel tidak mau bertemu. Kalau begini, jelas bisa jadi konflik besar,” tegas Edi Samat.
Menurut Edi, sikap menghindar dari pihak yang mengaku sebagai pemilik lahan justru menimbulkan tanda tanya besar mengenai legalitas klaim tersebut. Ia menegaskan bahwa jika benar memiliki dokumen resmi, tidak ada alasan untuk menghindari pertemuan maupun klarifikasi.
Potensi Konflik Dinilai Sangat Tinggi
Edi Samat menilai, persoalan tanah seperti ini sangat sensitif dan mudah memicu pertikaian jika tidak segera diselesaikan secara terbuka.
“Kita khawatir hal seperti ini bisa memicu keributan. Kalau tidak ada kejelasan, masyarakat bisa terpancing, dan ini sangat berbahaya. Jangan sampai ada korban hanya karena klaim sepihak,” ujarnya.
Ia mendesak pemerintah setempat serta aparat terkait untuk turun tangan segera melakukan pengecekan status tanah, memverifikasi dokumen kepemilikan, serta memediasi kedua belah pihak agar tidak terjadi konflik horizontal.
Warga Batulayang berharap persoalan ini segera diselesaikan secara hukum dan terbuka. Mereka khawatir jika situasi dibiarkan, potensi gesekan antarwarga akan semakin besar, apalagi pihak yang mengklaim tidak bersedia membuka dialog.
Editor: Tim Teras Indonesia News | Sumber: Edi Samat | Penulis: Totas

