• Jelajahi

    Copyright © Teras Indonesia News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    GNTV INDONESIA

    Iklan

    Logo

    KITA SEMUA PENYELAMAT PERTAMA

    Teras Indonesia News
    Dibaca: ...
    Last Updated 2025-12-04T00:46:37Z

    TerasIndonesiaNews.com - JAKARTA, 4 Desember 2025

    Hujan lebat berkepanjangan memaksa sungai–sungai di Aceh meluap, ketika tanah tidak mampu menahan beban air dan longsor menghancurkan perkampungan, akses jalan, jembatan serta listrik terputus, korban tidak kunjung terselamatkan. 


    Kita kembali diingatkan bahwa dalam saat darurat, penyelamat pertama bukan selalu datang dari tim profesional, melainkan dari warga biasa, keluarga, tetangga, atau siapa saja yang berada di lokasi bencana. Kini, sembari Aceh menghadapi skala krisis yang amat besar, frasa “Kita Semua adalah Penyelamat Pertama” bukan sekadar slogan  melainkan panggilan moral dan panggilan aksi bagi bangsa kita.


    Sejak pertengahan November 2025, Aceh dilanda banjir dan longsor hebat akibat curah hujan ekstrim. Berdasarkan data terbaru, 16 kabupaten/kota di provinsi itu telah terdampak total rumah, fasilitas publik, dan daerah permukiman terendam atau rusak.


    Pemerintah Provinsi Aceh telah menetapkan status tanggap darurat sejak 27 November 2025 untuk 14 hari ke depan, sebagai upaya mempercepat mobilisasi evakuasi, logistik bantuan, dan koordinasi lintas lembaga.


    Namun lebih dari itu, bencana ini kembali mengingatkan bahwa keadaan darurat menuntut peran aktif semua elemen bukan sekadar pemerintah atau lembaga formal, tetapi masyarakat luas.


    Kenapa Kita Harus Jadi Penyelamat Pertama?

    Menggantungkan keselamatan pada tim SAR, pemerintah, atau relawan profesional bukan hanya optimisme semu  melainkan ketergantungan berbahaya. Nyawa korban sering kali di tentukan dalam golden hour, saat detik dan menit pertama setelah bencana terjadi. Jika tidak ada yang merespons cepat atau memberi pertolongan pertama, membawa korban ke tempat aman, konsekuensinya bisa fatal.


    Data dari Aceh menunjukkan banyak warga yang terdampak, terisolasi, atau bahkan hilang ketika infrastruktur lumpuh, jalan tertutup, komunikasi padam, air menggenang.


    Dengan demikian, setiap warga  penduduk desa, kota, warga RT/RW berpotensi menjadi “penyelamat pertama”. Mereka bisa menyelamatkan tetangga, membantu membawa anak-anak atau lansia ke tempat aman, membantu evakuasi, bahkan melakukan pertolongan pertama.


    Frasa bahwa “kita semua penyelamat pertama” berarti memperluas tanggung jawab kemanusiaan, dan meneguhkan bahwa ketangguhan bangsa bergantung pada solidaritas serta kesiapsiagaan secara kolektif.


    Peran negara dan lembaga formal tetap tentunya sangat penting, penyelamatan massif, penyaluran logistik, rehabilitasi, serta pemulihan. Namun pengalaman Aceh mengajarkan bahwa masyarakat harus memiliki kapasitas dasar  pengetahuan, kesadaran, dan keberanian untuk bertindak.


    Sayangnya, budaya kesiapsiagaan di Indonesia belum cukup mengakar. Banyak warga hampir tidak pernah mendapatkan pelatihan pertolongan pertama, evakuasi saat banjir, penanganan darurat medis sederhana, atau cara menyelamatkan diri sendiri ketika longsor. Simulasi bencana seringkali hanya sekadar seremonial atau formalitas.


    Berkaca dari kondisi seperti Aceh saat ini, formalitas semata tidak cukup. Diperlukan kecakapan sipil (civic skill) yakni kemampuan praktis warga untuk merespons bencana, melindungi diri, dan melindungi orang lain.


    Kesiapsiagaan bukan melulu urusan alat atau dana besar melainkan bisa dimulai dari hal sederhana, tahu jalur evakuasi, saling berkomunikasi dengan tetangga, menyusun rencana keluarga, berbagi informasi peringatan cuaca, atau sekedar sigap membantu korban.


    Dengan kemampuan dasar yang merata di seluruh lapisan masyarakat, kekuatan tanggap darurat tidak lagi eksklusif pada segelintir tim tetapi melebar secara horizontal, dari masyarakat untuk masyarakat.


    Gerakan Keselamatan dan Solidaritas “Kita Semua Penyelamat Pertama”

    Frasa itu bukan simbol kosong harus diubah menjadi gerakan nyata. Berikut beberapa gagasan yang penting perlu dijadikan program nasional:


    Pertama pelatihan dan pendidikan kesiapsiagaan di sekolah, kampus, kantor, hingga komunitas RT/RW.


    Kedua simulasi rutin dan penyebaran informasi risiko, termasuk jalur evakuasi, sistem peringatan dini, dan rencana keluarga menghadapi situasi darurat.


    Ketiga  penguatan komunitas lokal dan relawan warga, membentuk tim tanggap awal di desa/kelurahan.


    Keempat perlindungan dan restorasi lingkungan menjaga hutan, mencegah deforestasi ilegal, serta menata ulang penggunaan lahan,


    Kelima kesadaran kolektif bahwa keselamatan bersama adalah tanggung jawab bersama, bukan sekadar tugas negara.


    Jika setiap warga memahami bahwa mereka bisa menyelamatkan  dan benar-benar bisa. Maka secara tidak langsung kita memperkuat fondasi ketangguhan nasional berbasis kemanusia dan solidaritas yang kokoh.


    Bencana di Aceh megoyak banyak hal rumah, infrastruktur serta harapan. Tapi juga mengungkap satu kenyataan bahwa kita sebagai bangsa belum benar-benar siap, kecuali kita memutuskan untuk mengambil peran aktif.


    Kalimat “Kita Semua Penyelamat Pertama” harus menjadi fondasi moral dan praktis bagi kita sebagai pengingat bahwa keselamatan bergantung pada solidaritas, kesiapsiagaan, dan kesadaran kolektif.


    Indonesia mungkin besar, kaya sumber daya tetapi jika manusianya tidak siap bertindak, tidak menumbuhkan budaya kesiapsiagaan dan tanggung jawab bersama, maka ketangguhan akan selamanya menjadi retorika.


    Mari jadikan bencana Aceh sebagai momentum pembelajaran bahwa bersama dalam solidaritas, kita dapat menjadi perisai pertama saat bencana datang. Bahwa kita, sebagai warga, bisa menjadi penyelamat, bukan sekedar penonton.


    Karena sejatinya, keselamatan bersama hanya bisa terwujud jika setiap individu menyadari bahwa kita semua bisa menjadi penyelamat pertama.


    Editor : Tim Teras Indonesia News | Sumber : Fathur Rohman | Penulis : Ropik K Raya

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini