TerasIndonesiaNews.com - JAKARTA, 30 November 2025
Bencana hidrometeorologi, khususnya banjir bandang dan tanah longsor yang beberapa hari ini melanda beberapa provinsi di Sumatera dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat menguji ketangguhan bangsa ini. Laporan data dan statistik memang sangat penting, berapa korban jiwa, berapa rumah hancur, dan berapa kerugian material.
Namun, di balik angka-angka dingin itu, terhampar realitas kemanusiaan yang jauh lebih mendalam mulai dari kerentanan psikologis, hilangnya mata pencaharian, hingga terputusnya jaringan sosial.
Fase tanggap darurat kini mulai bergeser. Setelah masa heroik pencarian dan penyelamatan usai, perhatian harus beralih sepenuhnya ke Pemulihan dan Dukungan Korban. Ini bukan lagi sekadar soal logistik bantuan, tetapi tentang bagaimana kita membantu penyintas khususnya mereka yang terisolasi untuk kembali berdiri utuh secara fisik dan mental seperti sediakala.
Prioritas Kesehatan Mental “Melampaui Kebutuhan Fisik”
Tahap awal respons kemanusiaan selalu berfokus pada kebutuhan vital, makanan, air bersih, pakaian, dan layanan kesehatan darurat. Upaya cepat pemerintah yang relawan dalam menyalurkan bantuan ke daerah-daerah terpencil di Sumatera patut diapresiasi, mengingat sulitnya akses akibat infrastruktur yang terputus oleh longsoran.
Namun, pengalaman mengajarkan bahwa kerugian psikologis akibat bencana seringkali bertahan lebih lama dan dampaknya lebih menghancurkan daripada kerusakan fisik. Korban yang kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, atau bahkan mata pencaharian, berpotensi mengalami Trauma yang kuat, kecemasan (Anxiety), bahkan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).
Karena itu, respons kemanusiaan yang komprehensif harus menjadikan dukungan psikososial sebagai pilar utama. Program-program ini tidak bisa bersifat insidental, tetapi harus terstruktur dan berkelanjutan, yang meliputi:
Pertama pendampingan psikologis dengan menyediakan tenaga psikolog, psikiater, dan relawan terlatih yang secara aktif mendatangi lokasi pengungsian dan rumah sakit.
Kedua aktivitas terapi kelompok terutama bagi anak-anak, melalui permainan dan kegiatan kreatif untuk membantu mereka memproses trauma.
Ketiga dukungan spiritual dengan mengaktifkan tokoh agama dan tokoh adat lokal sebagai support system kultural yang paling dekat dengan korban.
Mendukung kesehatan mental adalah investasi jangka panjang. Jika trauma tidak ditangani segera, maka bisa menjadi bom yang menghambat proses pemulihan anak dan komunitas secara keseluruhan.
Tantangan di Wilayah Terisolasi
Salah satu tantangan terbesar dalam bencana Sumatera adalah banyaknya desa dan pemukiman yang terisolasi total akibat jembatan putus atau jalur darat tertutup. Kondisi ini menciptakan kerentanan ganda, kesulitan menerima bantuan fisik dan keterlambatan menerima dukungan non-fisik.
Pemerintah dan lembaga non-pemerintah perlu mengadopsi pendekatan inovatif untuk menjangkau mereka. Penggunaan helikopter untuk mengirim tim gabungan (medis, psikolog, dan logistik) adalah sebuah keharusan, bukan pilihan.
Selain itu, penting untuk memberdayakan relawan lokal yang memahami medan dan bahasa setempat. Mereka adalah jembatan paling efektif antara bantuan dari luar dan korban yang terisolasi.
Dengan bantuan relawan lokal yang mendamingi tim medis untuk pertolongan pertama psikologis (Psychological First Aid/PFA) sangat meningkatkan kapasitas respons di garis depan.
Pemulihan Jaminan Mata Pencaharian
Pemulihan pasca-bencana tidak hanya berhenti saat korban dipindahkan dari tenda pengungsian. Tapi pemulihan sejati dimulai ketika mereka bisa kembali produktif seperti sebelumnya. Di Sumatera, mayoritas korban bencana hidrometeorologi adalah petani, pekebun, atau pedagang kecil yang kehilangan ladang, kebun, dan sarana dagang mereka.
Karena itu respons kemanusiaan yang harus didorong ke fase Pemulihan Dini (Early Recovery) ialah yang berfokus pada:
Pertama restorasi ekonomi skala kecil, dengan memberikan modal kerja awal atau bantuan bibit/alat pertanian agar masyarakat dapat kembali mengolah lahan mereka.
Kedua program cash for work yakni program padat karya di mana korban bencana alam dipekerjakan untuk membersihkan puing-puing atau membangun kembali infrastruktur dasar mereka. Hal ini tidak hanya mempercepat pembangunan, tetapi juga mengembalikan martabat dan rasa bagii korban.
Ketiga pembangunan hunian sementara yang layak bukan sekadar tenda, melainkan hunian yang tahan cuaca dan memberi rasa aman, sembari menunggu pembangunan rumah permanen yang tahan bencana (Resilient Housing).
Tanpa jaminan bahwa mereka dapat kembali mencari nafkah, korban akan terus bergantung pada bantuan, dan spiral kemiskinan pasca-bencana akan sulit diputus.
Bukan Hanya Tugas Pemerintah “Mari Kolaborasi Multisegmen”
Keberhasilan respons kemanusiaan yang holistik mustahil dicapai apabila hanya pemerintah yang mengusahkan. Tapi, Ini membutuhkan kolaborasi multisegmen yang kuat diantaranya:
Pemerintah (Pusat dan Daerah), berperan sebagai koordinator utama, penyedia anggaran, dan penjamin keamanan akses. Mereka harus memastikan birokrasi penyaluran bantuan tidak menghambat kecepatan respons.
Swasta dan Korporasi dapat memberikan bantuan bukan hanya dalam bentuk dana, tetapi juga keahlian (misalnya, tim teknik untuk perbaikan infrastruktur, serta layanan telekomunikasi secara gratis).
LSM dan Relawan menjadi tulang punggung dalam implementasi lapangan, khususnya penyediaan layanan spesialis seperti dukungan psikososial serta edukasi kesehatan.
Masyarakat Sipil dan Media berfungsi sebagai mata dan telinga yang mengawasi efektivitas bantuan serta memastikan transparansi. Karena itu media harus memiliki peran vital dalam menyuarakan kebutuhan korban yang terisolasi.
Bencana di Sumatera adalah pengingat pahit bahwa Indonesia hidup di cincin api dan rawan bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh perubahan iklim. Setelah fokus pada pemulihan korban selesai, kita harus memanfaatkan momentum ini untuk melakukan adaptasi dan mitigasi bencana secara radikal.
Langkah-langkahnya meliputi peninjauan ulang tata ruang daerah rawan longsor serta banjir, edukasi bencana yang masif di sekolah dan komunitas dan penguatan sistem peringatan dini yang terintegrasi hingga ke tingkat desa.
Respons kemanusiaan yang sesungguhnya bukanlah upaya sesaat untuk memberi makan, melainkan upaya berkelanjutan mengembalikan harapan, membangun kembali martabat, dan menjamin masa depan yang lebih aman bagi para korban.
Hanya dengan menjadikan pemulihan dan dukungan korban sebagai prioritas nasional yang berorientasi pada jangka panjang, kita dapat mengubah bencana menjadi pelajaran berharga serta momentum membangun Indonesia yang lebih tangguh.
Editor : Tim Teras Indonesia News | Sumber : Fathurrahman. Pengurus Nasional Karang Taruna | Penulis : Ropik K Raya

