TerasIndonesiaNews.com - Balaban, Kalimantan Barat | Kamis, 02 Juli 2026
Tradisi mengolah buah durian menjadi dodol durian atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan lampuk kembali dilaksanakan oleh warga Desa Belaban pada musim durian tahun ini. Kegiatan dimulai pada Kamis, 2 Juli 2026, pukul 17.00 WIB hingga selesai, dengan proses menggulai atau menyusul lampuk yang menjadi tahapan utama dalam pembuatannya.
Lampuk merupakan salah satu makanan khas tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Belaban. Selain menjadi cara untuk mengawetkan buah durian agar dapat dinikmati lebih lama, tradisi ini juga mencerminkan nilai kebersamaan, kesabaran, dan kearifan lokal yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Pada tahun ini, proses pembuatan lampuk dilakukan secara khusus oleh Ibu Semial, yang akrab disapa Umak Buntung atau Umak Tuti, ibu dari Buntung CPLA. Berbekal pengalaman dan ketelatenan yang dimilikinya, beliau mengolah durian pilihan menjadi dodol durian dengan cita rasa khas yang tetap mempertahankan resep tradisional keluarga.
Proses pembuatan lampuk membutuhkan waktu yang cukup lama karena adonan harus terus diaduk di atas tungku hingga mencapai tekstur yang padat, kenyal, dan berwarna kecokelatan. Ketekunan inilah yang menjadikan lampuk memiliki kualitas dan cita rasa yang istimewa.
Bagi masyarakat Desa Belaban, tradisi membuat lampuk bukan sekadar mengolah hasil panen durian, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang patut dilestarikan. Diharapkan tradisi ini terus diwariskan kepada generasi muda agar kuliner khas daerah tetap hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Editor : Tim Redaksi | Sumber : Buntung CPLA | Penulis : Tim



Tidak ada komentar:
Posting Komentar