TerasIndonesiaNews.com – Medan, Sumatera Utara | Jum'at, 15 Mei 2026
Dunia pers di Sumatera Utara kembali diguncang kabar serius yang menyita perhatian publik. Seorang pimpinan media online berinisial SP diduga mengalami penculikan dan intimidasi setelah medianya memberitakan dugaan praktik ilegal kondensat dan judi meja tembak ikan di wilayah Kabupaten Langkat.
Informasi tersebut mencuat melalui pemberitaan yang beredar luas di media sosial dan sejumlah platform digital. Dalam kutipan keterangan yang beredar, SP mengaku mengalami tekanan dan ancaman setelah memenuhi ajakan pertemuan dari seseorang yang disebut berinisial FK.
Menurut narasi yang beredar, awalnya SP diajak bertemu di sebuah kafe di Kota Medan dengan dalih membahas informasi terkait dugaan peredaran narkoba di wilayah Binjai. Namun setibanya di lokasi, situasi disebut berubah drastis.
SP mengaku didatangi dua pria tak dikenal dan dipaksa masuk ke dalam sebuah kendaraan. Dalam kondisi tertekan, dirinya disebut diminta membuat video klarifikasi untuk membantah berita investigasi yang sebelumnya telah diterbitkan medianya.
“Setelah saya datang ke lokasi, tiba-tiba saya didatangi dua pria tak dikenal. Saya dipaksa masuk ke dalam mobil dengan dalih harus memberikan klarifikasi atas berita yang saya tulis,” demikian kutipan pengakuan SP yang beredar di media sosial.
Situasi disebut semakin mencekam ketika di dalam kendaraan SP mengaku melihat sosok pria berseragam loreng yang diduga anggota TNI AD. Dalam kondisi penuh tekanan, ia mengaku dipaksa menyangkal isi pemberitaan yang telah dipublikasikan.
“Saya ditekan untuk membuat video klarifikasi. Isinya saya harus menyatakan bahwa berita soal kondensat dan judi tembak ikan itu tidak benar. Saya tidak punya pilihan di bawah ancaman seperti itu,” ujar SP dalam kutipan yang beredar.
Tak hanya itu, SP juga mengaku diminta menutupi keberadaannya dari rekan media maupun keluarga. Ia menyebut para terduga pelaku meminta dirinya berbohong apabila ada pihak yang menanyakan keberadaannya.
“Mereka bilang, kalau ada wartawan lain bertanya, bilang saja ada acara ulang tahun atau surprise,” ungkapnya menirukan ucapan yang diterimanya.
Kasus ini langsung memicu perhatian berbagai kalangan, terutama pegiat kebebasan pers dan aktivis demokrasi. Mereka menilai, apabila dugaan tersebut benar terjadi, maka tindakan intimidasi terhadap wartawan merupakan ancaman serius terhadap kebebasan pers dan demokrasi.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan keterlibatan oknum aparat sebagaimana disebut dalam narasi yang beredar. Publik kini menunggu langkah aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dugaan intimidasi tersebut secara transparan dan profesional.
Sejumlah pihak juga meminta agar keselamatan insan pers menjadi perhatian serius, mengingat kerja jurnalistik dilindungi undang-undang dan memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Editor : Tim Redaksi | Sumber : Tim | Penulis : M. Tohir



Tidak ada komentar:
Posting Komentar