• Jelajahi

    Copyright © Teras Indonesia News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    GNTV INDONESIA

    Iklan

    Logo

    Tangis Dedi di Ujung Sungai: Kapal Tenggelam, Harapan Ikut Hanyut

    Teras Indonesia News
    Dibaca: ...
    Last Updated 2026-04-16T04:51:20Z

    TerasIndonesiaNews.com — Kubu Raya, Kalimantan Barat | Kamis, 16 April 2026

    Deru ombak di perairan Rasau Jaya pada 5 Januari 2026 bukan hanya menenggelamkan KM. Juwita, tetapi juga menghanyutkan harapan hidup seorang pria sederhana bernama Dedi Darmawan. Warga Desa Riak Bandung itu kini harus menghadapi kenyataan pahit: kehilangan sumber nafkah, dihimpit utang, dan dihantui ketidakpastian masa depan.


    KM. Juwita bukan sekadar kapal bagi Dedi. Itulah satu-satunya alat untuk menafkahi keluarga. Setiap hari, kapal itu mengangkut penumpang dan hasil panen warga, terutama buah sawit yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat setempat. Namun nahas, dalam hitungan menit, semuanya hilang ke dasar sungai.


    Peristiwa tenggelamnya kapal diduga kuat dipicu gelombang besar akibat melintasnya kapal cepat milik perusahaan pelayaran besar. Namun hingga kini, belum ada kejelasan tanggung jawab. Dedi hanya bisa menatap kosong, menunggu keadilan yang terasa semakin jauh.


    “Saya hanya orang kecil. Saya tidak punya apa-apa lagi,” ucap Dedi dengan suara lirih.


    Beban yang ia tanggung tidak berhenti di situ. Kapal tersebut masih dalam status kredit di koperasi. Kini, tagihan terus datang, sementara penghasilan sudah tidak ada. Dalam kondisi terdesak, Dedi bahkan pernah meminta agar dirinya dilaporkan ke pihak berwajib karena tak sanggup membayar.


    “Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Tanpa kapal itu, saya kehilangan segalanya,” katanya.


    Tak hanya Dedi, warga lain juga ikut terdampak. Muatan sawit milik masyarakat yang ikut tenggelam menambah panjang daftar kerugian. Di tengah kesulitan ekonomi, peristiwa ini menjadi pukulan berat bagi banyak keluarga.


    Upaya mencari keadilan pun dilakukan Dedi dengan menulis surat terbuka kepada pemerintah. Ia berharap suara kecil dari desa bisa sampai ke telinga para pemangku kebijakan. Namun hingga kini, jawaban yang ditunggu belum kunjung datang.


    Sementara itu, pihak yang diduga terkait belum memberikan keterangan resmi. Proses penyelidikan masih berjalan, namun waktu terus bergulir, meninggalkan Dedi dalam ketidakpastian.


    Hari-hari Dedi kini diisi kegelisahan. Ia bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga dihantui rasa takut akan masa depan keluarganya. Di tengah keterbatasan, satu-satunya yang tersisa hanyalah harapan kecil agar keadilan benar-benar berpihak.


    “Kami tidak minta banyak. Kami hanya ingin hidup kami bisa kembali seperti dulu,” tutupnya dengan mata berkaca-kaca.


    Editor : Tim Redaksi | Sumber : Tim | Penulis : Totas

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini