• Jelajahi

    Copyright © Teras Indonesia News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    GNTV INDONESIA

    Iklan

    Logo

    Sungai Diracuni, Negara Diam: Merkuri Mengalir Di Retok, Rakyat Dipaksa Menelan Racun

    Teras Indonesia News
    Dibaca: ...
    Last Updated 2026-04-14T06:44:49Z

    TerasIndonesiaNews.com — Kubu Raya, Kalimantan Barat | Selasa, 14 April 2026

    Tragedi lingkungan kini nyata terjadi di Sungai Retok, Desa Retok, Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya. Sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat diduga telah tercemar limbah berbahaya akibat aktivitas tambang emas tanpa izin (PETI) yang dilakukan secara ugal-ugalan dan tanpa tanggung jawab.


    Hasil uji laboratorium terhadap sampel air yang diambil dari lokasi tersebut menunjukkan indikasi kuat adanya kandungan merkuri—zat beracun yang dapat merusak kesehatan manusia dan menghancurkan ekosistem. Ini bukan sekadar pencemaran biasa, ini adalah ancaman nyata bagi kehidupan masyarakat.


    Yang membuat situasi semakin memanas, persoalan ini disebut sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Pemerintah daerah, aparat kepolisian, hingga pihak terkait diketahui sudah turun langsung ke lapangan, bahkan melakukan pengambilan sampel. Namun hingga kini, belum terlihat tindakan tegas yang mampu menghentikan kerusakan yang terus berlangsung.


    Bagi masyarakat, ini bukan lagi soal prosedur atau kewenangan. Ini soal keselamatan hidup.


    “Kami tidak melarang orang mencari nafkah, tapi jangan racuni sungai kami! Ini sumber air minum kami saat kemarau,” ungkap salah satu warga dengan nada geram.


    Sungai Retok bukan hanya sekadar aliran air. Sungai ini menjadi sumber air bersih, tempat mencari ikan, hingga bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat. Kini, semua itu terancam hilang akibat aktivitas tambang yang diduga membuang limbah langsung ke aliran sungai.


    Lebih mengkhawatirkan lagi, aktivitas tambang disebut berada di wilayah hulu. Artinya, pencemaran akan terus mengalir dan menyebar, memperluas dampak hingga ke wilayah hilir dan mengancam lebih banyak warga.


    Di tengah kondisi ini, masyarakat mulai bergerak. Mereka tengah menyiapkan video somasi yang akan ditujukan kepada pihak berwenang sebagai bentuk protes keras atas lambannya penanganan.


    Alasan klasik seperti tumpang tindih kewenangan antar wilayah tidak lagi bisa diterima. Bagi warga, itu hanyalah dalih untuk menunda tindakan.


    Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan hanya lingkungan yang hancur—tetapi juga kepercayaan rakyat terhadap negara yang akan ikut terkubur.


    Pertanyaannya sekarang: sampai kapan rakyat harus minum air yang diduga telah bercampur racun, sementara negara memilih diam?


    Editor : Tim Redaksi | Sumber : Tim | Penulis : Edi Samat

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini