TerasIndonesiaNews.com - Kalimantan Barat – Rabu 28 Januari 2026
Maraknya aktivitas angkutan barang tambang alumina oleh perusahaan Antam yang melintasi jalur Trans Kalimantan kini menjadi sorotan tajam. Pasalnya, mobilitas armada kontainer dan trailer yang sangat tinggi dinilai telah mengancam keselamatan pengguna jalan dan merusak infrastruktur publik.
Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah mobilitas armada pengangkut ini mencapai angka yang fantastis, yakni sedikitnya 50 unit per hari. Setiap kontainer berukuran 20 kaki rata-rata membawa muatan alumina seberat 20 hingga 22 ton. Jika dikalkulasikan, setidaknya ada minimal 1.100 ton material tambang yang melintas setiap harinya di jalur tersebut.
Kondisi ini memicu berbagai persoalan di lapangan. Pada jam-jam sibuk, iring-iringan truk besar seringkali menyebabkan kemacetan panjang. Tak jarang, kendaraan-kendaraan ini parkir di bahu jalan Trans Kalimantan sehingga menghalangi pandangan pengendara lain dan meningkatkan risiko kecelakaan fatal. Kerusakan jalan berupa kemiringan yang tidak wajar serta lubang-lubang dalam kini menghiasi jalur tersebut, yang sangat membahayakan baik di siang maupun malam hari.
Menanggapi hal tersebut, Totas, perwakilan dari Ksatria Bela Negara Kalimantan Barat, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa instansi terkait harus segera turun tangan melakukan pengawasan ketat dan terpadu.
“Ini perlu pengawasan serius dari instansi terkait karena banyak aspek yang harus diawasi. Mulai dari kemampuan beban jalan yang dilewati, potensi kemacetan, hingga risiko tabrakan yang terus mengintai. Jangan sampai masyarakat yang terus dirugikan,” tegas Totas.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pengawasan aparat diperlukan untuk memastikan adanya ketertiban di jalan raya guna mengurangi risiko kecelakaan dan kerugian materiil maupun non-materiil lainnya bagi pengguna jalan umum. Masyarakat berharap ada solusi konkret agar aktivitas korporasi tidak mengabaikan aspek keamanan dan kenyamanan publik di sepanjang jalan Trans Kalimantan.
Editor : Teras Indonesia News | Sumber : KBN | Penulis : Edi Samat

