• Jelajahi

    Copyright © Teras Indonesia News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    GNTV INDONESIA

    Iklan

    Logo

    Tantangan Baru Perempuan di Dunia Serba Cepat

    Teras Indonesia News
    Dibaca: ...
    Last Updated 2025-12-06T03:12:24Z






    TerasIndonesiaNews.com - PONTIANAK, 6 Desember 2025


    Perubahan zaman tidak pernah bergerak setenang yang kita bayangkan. Namun, dalam satu dekade terakhir, percepatan perubahan terasa seperti tarikan mendadak pada rem darurat mengejutkan, memaksa, sekaligus menuntut siapapun terutama perempuan menata ulang langkahnya. Dunia serbacepat menghadirkan lanskap tantangan baru yang tidak lagi sama dengan persoalan klasik yang kerap melekat dalam diskursus kesetaraan gender. 


    Jika dahulu perjuangan perempuan berkisar pada akses pendidikan, partisipasi politik, atau kesempatan kerja, kini medan tempurnya jauh lebih kompleks digitalisasi, tekanan performa, eksploitasi algoritmik, beban mental, hingga standar kesempurnaan yang diproduksi tanpa henti.


    Perempuan yang sepanjang sejarah sering ditempatkan dalam garis batas sosial yang sempit, kini justru harus berhadapan dengan dunia yang membuka pintu amat luas, namun tidak tanpa jebakan. Akses pendidikan dan lapangan kerja memang membaik, tetapi bersamaan dengan itu, muncul tuntutan yang sama sekali baru. 


    Dunia serbacepat tidak hanya memperluas kesempatan, tetapi juga mempercepat ritme kompetisi, memadati ruang personal serta menyeret batas antara “peran publik” dan “peran domestik” menjadi semakin kabur. Pertanyaannya adalah apakah perempuan benar-benar diuntungkan oleh kecepatan ini, atau justru sedang dilanda bentuk tekanan baru.


    Digitalisasi Pisau Bermata Dua


    Transformasi digital menyediakan ruang besar bagi perempuan untuk belajar, bekerja, dan bersuara. Media sosial memungkinkan perempuan membangun jaringan, mengadvokasi isu, mengembangkan bisnis rumahan, hingga merayakan identitas diri. Namun, di balik itu, terdapat paradoks yang jarang dibahas secara serius, di ruang digital juga menciptakan tekanan performa yang luar biasa.


    Di Instagram, TikTok serta platform lainnya, perempuan tidak hanya dituntut untuk kompeten, tetapi juga tampil sempurna cantik, produktif, berprestasi, kreatif, mandiri, sekaligus tetap feminin dalam standar sosial yang samar dan berubah cepat. Algoritma menyulap kesempurnaan sebagai sesuatu yang normal padahal ia hanyalah potongan momen terpilih dari kehidupan yang jauh lebih kompleks.


    Tekanan ini melahirkan fenomena yang sering kali tidak terlihat “burnout identitas”. Perempuan merasa harus terus hadir di ruang digital agar relevan, namun pada saat yang sama juga harus menjaga kehidupan personal yang tak kalah menuntut. 


    Banyak perempuan bekerja dari rumah dengan ritme cepat, mengurus anak di antara rapat virtual, sekaligus mengelola ekspektasi sosial bahwa ia harus selalu “tampak baik-baik saja.” Dunia serbacepat membuat perempuan harus menjadi multitasker ekstrem tanpa kesempatan untuk berhenti.


    Di banyak pekerjaan digital, perempuan juga menghadapi ketidakadilan baru yang belum sepenuhnya punya nama. Contohnya: invisible labour dalam bentuk membalas pesan, merespons komentar pelanggan, hingga mengelola reputasi semua yang menuntut waktu dan energi, tetapi sering kali tidak dianggap sebagai pekerjaan. 


    Pekerjaan paruh waktu berbasis aplikasi, yang seolah memberi fleksibilitas, malah sering menjebak perempuan dalam jam kerja tidak menentu dan tanpa perlindungan sosial.


     konteks ini, digitalisasi adalah pisau bermata dua membuka peluang sekaligus memunculkan tekanan yang lebih halus tetapi jauh lebih melelahkan.


    Beban Ganda yang Tidak  Selesai


    Modernitas telah mengubah lanskap sosial, tetapi tidak serta merta menghapus pola-pola lama. Harapan masyarakat terhadap perempuan sebagai motor utama urusan domestik tetap kuat, bahkan ketika perempuan kini memasuki dunia kerja dengan kapasitas penuh. Hasilnya adalah perempuan modern menghadapi double burden, bahkan kini berubah menjadi triple burden kombinasi antara pekerjaan profesional, pekerjaan domestik, dan tuntutan performa digital.


    Satu hal yang jarang dibicarakan adalah bahwa percepatan zaman juga mempercepat ritme kelelahan. Tuntutan produktivitas datang dari dua arah yakni dari kantor, yang tidak lagi mengenal batas ruang dan waktu serta dari rumah yang selalu membutuhkan perhatian emosional dan fisik. 


    Sementara itu, narasi pemberdayaan perempuan sering memuja kemandirian tanpa menyediakan ruang untuk kelemahan. Perempuan dianggap ideal ketika mampu melakukan semuanya dengan kata lain bekerja optimal, mengurus keluarga, serta tetap menjaga kesehatan mental. Mereka menjadi simbol “superhuman” atau sebuah glorifikasi yang justru merugikan.


    Sampai saat ini kita jarang bertanya siapa yang menanggung risiko bila perempuan dipaksa memenuhi semua ekspektasi ini? Dan lebih penting, siapa yang menguntungkan?


    Standar Baru dalam Dunia Kerja


    Dunia kerja juga berubah drastis. Fleksibilitas jam kerja yang secara teori menguntungkan perempuan sering kali tidak benar-benar fleksibel. Fleksibilitas tanpa batas berarti jam kerja tanpa akhir. Pekerjaan hybrid atau jarak jauh membuat perempuan selalu “siaga.” Pesan kantor bisa masuk kapan saja, rapat dapat dilakukan bahkan setelah jam makan malam, sementara pekerjaan rumah menunggu tanpa pernah memberikan jeda.


    Selain itu, perempuan masih menghadapi bias yang tersisa, baik secara struktural maupun kultural. Banyak perusahaan mendukung kesetaraan gender, tetapi di level praktik, perempuan masih harus membuktikan dirinya lebih keras daripada laki-laki untuk memperoleh pengakuan yang sama. 


    Ketika menikah atau memiliki anak, perempuan sering dianggap berkurang komitmennya, padahal laki-laki tidak pernah mendapat asumsi serupa. Dunia serbacepat justru menguatkan bias ini karena perusahaan mencari individu yang selalu “siap kapan pun,” dan sesuatu yang tidak realistis bagi banyak perempuan.


    Perubahan teknologi juga melahirkan jenis pekerjaan baru yang sering kali temporer, kontraktual, dan penuh ketidakpastian. Banyak perempuan terjun ke sektor kreatif sebagai content creator, pekerja lepas, atau penjual daring. Namun, pekerjaan seperti ini sangat rentan terhadap fluktuasi algoritma dan tren. Hari ini viral, besok mungkin hilang. Ketidakpastian ini menciptakan dinamika psikologis yang tidak kalah berat.


    Tekanan Mental yang Tersamar


    Salah satu tantangan paling nyata tetapi paling jarang dibicarakan adalah kesehatan mental perempuan di tengah dunia serbacepat. Data global menunjukkan perempuan dua kali lebih rentan mengalami kecemasan dan depresi dibanding laki-laki. Namun stigma sosial membuat perempuan sering menahan diri untuk mencari bantuan. Di media sosial, narasi kesehatan mental memang semakin populer, tetapi ironisnya, perempuan tetap diharapkan tampak kuat, positif, dan resilien setiap saat.


    Tekanan ini berlapis, tekanan untuk berhasil, tekanan untuk tampil menarik, tekanan untuk menjadi ibu dan istri yang ideal, tekanan untuk mengelola pekerjaan dengan sempurna, serta tekanan untuk hadir secara sosial. Ditambah dengan budaya hustle, perempuan didorong untuk terus bergerak, berkarya, berproses,  dan berkembang tanpa waktu jeda.


    Pada akhirnya, tubuh dan pikiran memiliki batasnya sendiri. Banyak perempuan merasa lelah, tetapi tidak tahu bagaimana berhenti. Dunia serbacepat tidak menyediakan ruang untuk kegagalan padahal setiap manusia memiliki ritme unik yang tidak mungkin dipaksakan seragam.


    Untuk menjawab tantangan-tantangan ini, kita perlu mengubah cara berpikir tentang perempuan di era modern. Feminisme hari ini tidak lagi cukup berbicara soal akses dan representasi semata, tetapi perlu menyoroti beban psikologis, ekspektasi digital, dan dinamika baru yang lahir akibat kecepatan zaman.


    Pertama, penting untuk menggeser narasi tentang perempuan “super” yang mampu melakukan semuanya menjadi narasi tentang perempuan sebagai manusia. Manusia yang boleh lelah, boleh gagal, dan boleh memilih. Narasi pemberdayaan yang sehat bukanlah yang menuntut perempuan mengerjakan semuanya, tetapi yang memberi ruang dan dukungan agar perempuan bisa menentukan prioritas sesuai ritmenya.


    Kedua, dunia kerja perlu membangun ekosistem yang benar-benar inklusif dan berkelanjutan. Fleksibilitas harus dimaknai sebagai kesempatan untuk menata keseimbangan hidup, bukan sebagai alasan untuk memadati perempuan dengan jam kerja tak berakhir. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa perempuan mendapat perlindungan, dukungan kesehatan mental, serta peluang berkembang yang setara.


    Ketiga, literasi digital harus dibangun bukan hanya sebagai kemampuan teknis, tetapi juga sebagai kemampuan mengelola batas diri. Perempuan perlu belajar menetapkan batas terhadap algoritma dan tekanan sosial kapan harus terlihat, kapan boleh berhenti, dan kapan harus rehat dari tuntutan performa digital.


    Dunia serbacepat memang tidak dapat dihentikan, tetapi dapat dinegosiasikan. Perempuan tidak harus terus-menerus menjadi penyesuai utama dari setiap perubahan. Justru, masyarakat dan sistem sosial lah yang harus berbenah, mengakui bahwa kecepatan zaman tidak boleh mengorbankan kesehatan fisik dan mental perempuan.


    Pada akhirnya, perempuan tidak membutuhkan dunia yang bergerak lambat. Mereka hanya membutuhkan dunia yang tidak memaksa mereka berlari sendirian.



    Editor : Tim Teras Indonesia News | Sumber : Umi Marzuqoh. Me | Penulis : Ropik K Raya 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini