TerasIndonesiaNews.com — Pontianak, Kalimantan Barat | Minggu, 19 April 2026
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia kini menuai beragam respons. Di satu sisi, program ini dinilai membawa harapan besar bagi generasi muda dan pelaku usaha lokal. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa program berskala besar ini justru berpotensi menjadi ladang korupsi jika tidak diawasi secara ketat.
Dari perspektif pemerintah, MBG merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. Dengan memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup, pemerintah berharap dapat menekan angka stunting, meningkatkan konsentrasi belajar, serta menciptakan generasi yang lebih sehat dan produktif.
“Program ini bukan sekadar bagi-bagi makanan, tapi bagian dari strategi besar meningkatkan kualitas SDM Indonesia,” ujar seorang pejabat terkait dalam keterangan resminya.
Selain itu, MBG juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal, khususnya UMKM di sektor pangan. Keterlibatan mereka dalam penyediaan bahan makanan dan distribusi dinilai mampu menggerakkan roda ekonomi daerah.
Namun, di lapangan, tidak semua pihak melihat program ini berjalan ideal. Sejumlah kalangan masyarakat dan pengamat justru menyoroti potensi penyimpangan anggaran. Dengan nilai proyek yang besar dan distribusi yang luas, celah korupsi dianggap cukup terbuka jika sistem pengawasan lemah.
Beberapa warga mengungkapkan kekhawatiran terkait kualitas makanan dan transparansi pelaksanaan.
“Jangan sampai niat baik ini justru dimanfaatkan oknum. Anak-anak harus benar-benar dapat makanan yang layak, bukan sekadar formalitas proyek,” kata seorang orang tua siswa.
Lembaga Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kalbar turut angkat bicara. Mereka menilai program MBG memiliki tujuan yang baik, namun implementasinya harus diawasi secara ketat dan transparan.
“Program ini sangat mulia jika dijalankan dengan benar. Tapi kita tidak boleh menutup mata terhadap potensi penyimpangan. Pengawasan harus melibatkan publik, bukan hanya internal pemerintah,” tegas perwakilan LIRA Kalbar.
LIRA Kalbar juga menyoroti pentingnya keterbukaan data, mulai dari anggaran, penyedia bahan makanan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah. Menurut mereka, transparansi adalah kunci untuk mencegah praktik korupsi.
“Kalau semua terbuka, masyarakat bisa ikut mengawasi. Tapi kalau tertutup, ini bisa menjadi ladang baru bagi oknum yang ingin mengambil keuntungan,” tambahnya.
Di tengah pro dan kontra, program MBG kini berada di titik krusial. Apakah akan menjadi tonggak perbaikan kualitas generasi bangsa, atau justru menambah daftar panjang persoalan tata kelola anggaran?
Jawabannya sangat bergantung pada komitmen semua pihak—pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat—dalam memastikan program ini berjalan sesuai tujuan awalnya: memberi manfaat nyata bagi anak-anak Indonesia, bukan menjadi beban baru yang sarat masalah.
Editor : Tim Redaksi | Karya : Totas

