TerasIndonesiaNews.com - Kalimantan Barat | Kamis, 26 Maret 2026
Berdasarkan informasi dari BMKG, Kalimantan Barat akan menghadapi musim kemarau lebih panjang dan ekstrem mulai April hingga Oktober 2026 akibat El Nino, dengan puncak pada Agustus-September. Kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah gambut, serta berpotensi menyebabkan krisis saluran pernapasan dan kerusakan lingkungan luas.
Ketua Lidik Krimsus RI Kalimantan Barat, H.Badrut Tamam AQ menghimbau agar masyarakat Kalimantan Barat Jangan Lakukan Pembakaran Liar, Dilarang mutlak membakar limbah, hutan, atau lahan untuk tujuan apapun. Karena Pembakaran semacam ini dapat cepat menyebar dan menjadi kebakaran besar.
Perda Kalbar Nomor 2 Tahun 2022, mengatur pembakaran lahan hanya diperbolehkan maksimal 2 hektare dengan pengawasan ketat dan izin resmi. Pelanggaran dapat dikenai sanksi pidana atau perdata.
H.Badrun menghimbau masyarakat agar mengolah Limbah dengan Benar.
- Pisahkan sampah menjadi organik, anorganik, dan B3 (berbahaya dan beracun).
- Sampah organik seperti sisa makanan dan daun bisa diolah menjadi pupuk kompos, bukan dibakar.
- Serahkan sampah anorganik dan B3 ke tempat pembuangan yang ditentukan atau daur ulang melalui pihak terkait.
Pantau dan Laporkan jika melihat dan menemukan Titik Api.
- Jika menemukan titik panas atau percikan api, segera laporkan ke BPBD setempat atau nomor darurat terkait untuk dicegah menyebar.
- BNPB Provinsi dan sejumlah BNPB Kabupaten dan Kota wajib lebih proaktif mengingatkan pentingnya pengawasan dini dan peningkatan kesiapsiagaan di daerah rawan karhutla.
Pemerintah Wajib Lindungi Kesehatan Masyarakat Umum.
Jika terjadi kabut asap, gunakan masker yang sesuai (seperti masker bedah atau N95) untuk melindungi saluran pernapasan.
- Kurangi aktivitas di luar ruangan jika kualitas udara buruk, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan kronis.
Disamping itu juga, akibat dari kemarau ini masyarakat diminta Hemat dalam Penggunaan Air Bersih.
Selain karhutla, kemarau juga berpotensi menyebabkan kekeringan dan krisis air bersih. Gunakan air secara bijak dan simpan air untuk kebutuhan darurat.
Pemerintah diminta lebih proaktif dengan langkah nyata dalam melakukan penyuluhan dan upaya untuk menanggulangi kebakaran lahan dan kekurangan air bersih ini sejak dini, agar masyarakat tidak panik jika kedepan mengalami hal tersebut.
Semoga dengan adanya himbauan ini masyarakat Kalimantan Barat lebih cerdas dan mampu mengatasi dari problema ini.
Kalbar kuat, Kalbar dahsyat.
Editor : Tim Redaksi | Sumber : Ketua DPP LIDIK KRIMSUS Kalbar | Penulis : Edi Samat

