TerasIndonesiaNews.com - Sintang, 31 Marer 2026
Kondisi jalan rusak parah di Desa SP3 Bedayan, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, kembali menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Jalan tanah merah yang berubah menjadi lumpur licin saat hujan membuat aktivitas warga terganggu serius, bahkan membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Dalam video yang beredar luas, tampak warga harus bergotong royong menarik kendaraan yang terjebak di kubangan lumpur. Kondisi tersebut bukan hal baru bagi masyarakat setempat. Mereka mengaku telah bertahun-tahun menghadapi situasi serupa tanpa adanya perbaikan signifikan dari pemerintah.
Seorang warga dalam unggahan viral itu menegaskan bahwa yang mereka lakukan bukan sekadar mengeluh, melainkan menagih janji perbaikan yang sudah lama digaungkan. Ia menyebut, kondisi jalan tersebut sudah puluhan tahun dibiarkan tanpa perubahan berarti, bahkan cenderung semakin parah dari waktu ke waktu.
Kekecewaan warga semakin memuncak setelah muncul pernyataan pejabat yang dinilai tidak sensitif terhadap kondisi di lapangan. Pernyataan yang menyebut bahwa keterbatasan anggaran menjadi kendala dianggap tidak cukup menjadi alasan untuk membiarkan akses vital masyarakat dalam kondisi memprihatinkan.
Warga pun mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah dalam menangani persoalan infrastruktur dasar. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian justru menjadi hambatan utama bagi mobilitas, distribusi barang, hingga akses layanan kesehatan dan pendidikan.
Meski demikian, pihak pemerintah melalui dinas terkait menyampaikan bahwa perbaikan jalan tersebut menjadi kewenangan pemerintah kabupaten. Disebutkan pula bahwa alokasi anggaran telah disiapkan untuk perbaikan, meskipun realisasinya masih ditunggu masyarakat.
Namun bagi warga, janji tanpa kepastian waktu hanya akan memperpanjang penderitaan. Mereka berharap ada langkah nyata, bukan sekadar wacana yang terus berulang setiap tahun. Tekanan publik melalui media sosial pun dipastikan akan terus dilakukan hingga ada tindakan konkret di lapangan.
Fenomena ini menjadi cermin bahwa persoalan infrastruktur di daerah masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Ketika jalan rusak dibiarkan terlalu lama, bukan hanya akses yang terhambat, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah ikut terkikis.
Warga Sintang kini tidak lagi meminta hal muluk. Mereka hanya ingin jalan yang layak dilalui—sebuah kebutuhan dasar yang seharusnya menjadi prioritas, bukan janji yang terus ditunda.
Editor : Tim Teras Indonesia News|Sumber : LIRA|Penulis : Totas

