TerasIndonesiaNews.com - Tuhan, 11 Februari 2026
Tuban — Tambang pencucian pasir di wilayah Bancar kembali menjadi sorotan. Bukan semata soal aktivitasnya yang disebut berlangsung intens, tetapi karena muncul isu yang lebih serius: dugaan adanya upaya membatasi atau menekan pemberitaan agar aktivitas tersebut tidak disorot media.
Isu ini berbahaya. Bukan hanya bagi dunia jurnalistik, tetapi bagi transparansi publik.
Ketika sebuah usaha menjadi perbincangan luas dan justru muncul kabar bahwa ada upaya “meredam” informasi, pertanyaan publik otomatis mengeras:
mengapa harus takut diberitakan jika semua berjalan sesuai aturan?
Nama Santoso dan Aseng disebut-sebut dalam pusaran isu ini. Belum ada klarifikasi terbuka dari pihak yang bersangkutan.
Namun yang menjadi perhatian bukan sekadar siapa yang terlibat—melainkan apakah benar ada langkah-langkah yang mengarah pada pembungkaman informasi.
Dalam praktik demokrasi, pers adalah alat kontrol sosial. Upaya menghalangi kerja jurnalistik, jika benar terjadi, bukan sekadar gesekan personal—itu persoalan serius yang menyentuh kebebasan informasi.
Tambang pencucian pasir bukan aktivitas kecil. Ia melibatkan:
Pergerakan alat berat
Distribusi material dalam volume besar
Dampak lingkungan dan sosial
Perputaran ekonomi signifikan
Semakin besar skala aktivitas, semakin besar pula hak publik untuk tahu.
Jika benar ada tekanan terhadap awak media, maka ini bukan lagi sekadar isu tambang. Ini soal transparansi dan akuntabilitas.
Publik berhak mendapat jawaban:
Apakah tambang tersebut berizin lengkap?
Bagaimana pengelolaan dampak lingkungannya?
Apakah benar ada komunikasi yang bernuansa intimidatif terhadap jurnalis?
Jika semua legal dan sesuai aturan, membuka data adalah cara paling cepat mematahkan spekulasi.
Namun jika ruang informasi justru ditutup, kecurigaan akan tumbuh lebih cepat daripada klarifikasi.
Bancar kini tidak hanya berbicara tentang pasir yang dicuci dan dijual. Ia berbicara tentang apakah suara publik bisa tetap hidup, atau justru dikeringkan sebelum sampai ke permukaan.
Dan satu hal pasti:
upaya membungkam pemberitaan—jika itu benar terjadi—tidak akan menghentikan pertanyaan.
Ia justru membuat pertanyaan menjadi lebih keras.
Editor : Tim Teras Indonesia News|Sumber : Tim Media|Penulis : Totas

