TerasIndonesiaNews. 19 Desember 2025
Banyak orang mengira perilaku NPD hanya sebatas ghibah, membicarakan keburukan orang lain di belakang. Padahal, pada level tertentu, yang dilakukan NPD bukan lagi ghibah, melainkan fitnah: menyebarkan cerita yang dilebih-lebihkan, dipelintir, bahkan tidak pernah terjadi.
Kenapa bisa sejauh itu?
1. Fitnah Adalah Alat Kontrol, Bukan Sekadar Gosip
Pada NPD, cerita negatif tentang orang lain sering dipakai untuk: merusak reputasi target, mengisolasi korban dari dukungan sosial, membentuk opini sebelum fakta muncul.
Fitnah memberi NPD kendali narasi. Siapa yang dipercaya, siapa yang dicurigai, semua diarahkan sesuai kepentingan mereka.
2. Ketika Realita Mengancam Ego, Cerita Diciptakan
NPD sangat sensitif terhadap: kritik, penolakan, kehilangan kendali, orang yang tidak bisa dimanipulasi.
Saat ego mereka terancam, otak defensif bekerja cepat. Jika fakta tidak menguntungkan, maka cerita baru diciptakan untuk: membenarkan diri sendiri, menjatuhkan orang lain, menghindari rasa malu (core shame).
Di titik ini, kebenaran bukan prioritas, perlindungan ego-lah yang utama.
3. Fitnah Sebagai Proyeksi Diri
Hal menarik (dan berbahaya): Banyak tuduhan NPD justru adalah cerminan diri mereka sendiri.
Contoh:
- Menuduh orang manipulatif → padahal merekalah yang memanipulasi
- Menyebut orang egois → padahal mereka menuntut segalanya
- Menuduh orang berbohong → padahal mereka sedang menyembunyikan fakta
Ini disebut projection: cara psikologis untuk membuang sisi gelap diri ke orang lain agar tidak perlu menghadapinya.
4. Kenapa Fitnah Lebih Disukai daripada Konfrontasi Jujur
Konfrontasi sehat butuh: empati, tanggung jawab, kemampuan refleksi.
Hal-hal ini lemah atau tidak stabil pada NPD. Maka, fitnah menjadi jalan pintas: tidak perlu dialog, tidak perlu bukti, cukup memainkan emosi publik.
Apalagi jika lingkungan sekitar mudah percaya tanpa klarifikasi.
5. Dampak pada Korban: Luka yang Tak Terlihat
Fitnah bukan sekadar kata-kata. Dampaknya bisa: merusak reputasi, memutus relasi sosial, memicu trauma psikologis, membuat korban mempertanyakan realitas dirinya sendiri.
Inilah kenapa korban sering merasa bingung, terisolasi, dan kehilangan suara.
Kesimpulan:
Fitnah adalah Mekanisme Bertahan yang Merusak
Pada NPD:
ghibah → hiburan ego
fitnah → senjata bertahan
Bukan karena mereka kuat, tapi karena ego mereka rapuh dan tidak sanggup menghadapi kebenaran.
Memahami ini bukan untuk membenarkan, tapi agar kita: tidak terpancing, tidak sibuk membela diri pada narasi palsu, fokus menjaga batas dan realitas kita sendiri.
Karena kebenaran tidak selalu menang cepat, tapi fitnah selalu runtuh pada waktunya.
Editor : Tim Teras Indonesia News|Sumber : Listiani Nughrani|Penulis : MR. Linardo

