TERAS INDONESIA NEWS ||Di tengah arus modernisasi dan kemajuan teknologi yang kian pesat, manusia saat ini kian terjebak dalam pola hidup hedonis. Hedonisme, sebuah pandangan hidup yang menjadikan kesenangan dan kenikmatan sebagai tujuan utama kehidupan, telah menggeser nilai-nilai moral dan spiritual yang selama ini menjadi pedoman dalam mencari kebahagiaan sejati.
Pandangan hidup seperti ini mendorong banyak orang untuk berlomba-lomba mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan cara dan jalan yang ditempuh. Norma agama dan aturan seringkali diabaikan, sementara prinsip “yang penting kaya” menjadi landasan berpikir sebagian masyarakat. Halal dan haram seolah tidak lagi menjadi ukuran, asalkan harta dan kesenangan bisa diperoleh.
Padahal, dalam kehidupan ini, kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta, melainkan pada keberkahan rezeki. Banyak manusia kini lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas rezeki. Mereka menganggap hidup dan rezeki dapat dihitung secara matematis: satu tambah satu sama dengan dua. Padahal, hakikat rezeki tidak sesederhana rumus matematika. Ada kalanya seseorang memiliki modal besar namun tidak mendapatkan hasil sesuai harapan, sementara yang lain dengan usaha kecil justru memperoleh rezeki yang berlimpah.
Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa rezeki adalah rahasia Allah SWT. Tidak sedikit orang yang bekerja keras dari pagi hingga malam, bahkan sampai melalaikan ibadah, namun hidupnya tetap serba pas-pasan. Sebaliknya, ada pula yang tetap tenang beribadah dan menjaga ketaatan, namun rezekinya mengalir deras tanpa henti.
Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya:
إِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 37)
Ayat ini mengingatkan manusia agar senantiasa bersyukur atas setiap rezeki yang diberikan. Dengan rasa syukur, seseorang akan lebih tenang dan tidak terobsesi menghitung jumlah harta yang dimiliki. Harta sejatinya hanyalah wasilah (perantara) agar manusia dapat beribadah dengan tenang kepada Allah SWT.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Rasa syukur membawa ketenangan dalam menjalani kerasnya kehidupan. Meski harta sedikit, jika disertai rasa syukur, maka hidup akan terasa cukup dan bahagia. Sebaliknya, sebanyak apapun harta tanpa rasa syukur hanya akan melahirkan kegelisahan dan kehampaan batin.
Allah SWT juga menjanjikan balasan bagi hamba-Nya yang bersyukur:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Dalam konteks kehidupan modern, banyak orang menilai keberhasilan dari besar kecilnya gaji atau penghasilan. Padahal, rezeki yang sesungguhnya tidak semata berupa uang, melainkan juga berupa kesehatan, keluarga yang harmonis, waktu luang, dan ketenangan hati. Harta hanyalah titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh Allah SWT.
Kesadaran bahwa harta hanyalah titipan akan menumbuhkan sifat dermawan, semangat bersedekah, dan kesenangan berbagi. Tidak perlu takut kehilangan ketika memberi, sebab sejatinya hidup bukanlah perhitungan matematika. Apa yang kita berikan dengan ikhlas akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lebih baik, sesuai janji Allah SWT dalam firman-Nya:
وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan hidup, jalan keluar dari kesulitan, serta keberkahan rezeki hanya akan diperoleh dengan takwa dan tawakal kepada Allah. Seperti burung yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan kembali sore hari dengan perut kenyang, demikian pula Allah akan mencukupi rezeki bagi hamba-Nya yang percaya dan berserah diri kepada-Nya.
Maka dari itu, mari kita renungkan kembali hakikat rezeki dalam kehidupan ini. Ukurannya bukan pada banyaknya jumlah, melainkan pada keberkahan dan ketenangan yang menyertainya. Karena sejatinya, rezeki yang berkualitas adalah rezeki yang membuat hati semakin dekat kepada Allah SWT.
Penulis : Mr Linardo

