TerasIndonesiaNews.com – Jakarta | Minggu, 19 Juli 2026
Pengamat Sosial Politik sekaligus Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, menilai Indonesia tengah menghadapi darurat perceraian yang mengancam ketahanan keluarga, moral, hingga masa depan bangsa.
Menurutnya, lonjakan angka perceraian bukan sekadar persoalan rumah tangga, melainkan krisis sosial yang berdampak luas terhadap anak, perempuan, dan stabilitas masyarakat. Data menunjukkan pada 2025 tercatat 438.168 kasus perceraian, sementara pada awal 2026 laporan perkara perceraian telah mencapai sekitar 399 ribu kasus.
Tiga provinsi di Pulau Jawa menjadi penyumbang terbesar, yakni Jawa Barat (98.903 kasus), Jawa Timur (83.208 kasus), dan Jawa Tengah (67.500 kasus). Selain tingginya jumlah penduduk, tekanan ekonomi dan kompleksitas sosial dinilai menjadi faktor utama.
Toto juga menyoroti bahwa sekitar 79% perkara merupakan cerai gugat yang diajukan istri. Menurutnya, fenomena ini mencerminkan banyak perempuan yang merasa kehilangan rasa aman, kepastian nafkah, serta keharmonisan dalam rumah tangga.
Ia menjelaskan, konflik keluarga tidak hanya dipicu persoalan ekonomi, tetapi juga diperparah oleh utang, pekerjaan informal dengan penghasilan tidak menentu, judi online, pinjaman online, hingga perselingkuhan. Berbagai faktor tersebut menjadi pemicu pertengkaran berkepanjangan yang akhirnya berujung perceraian.
Toto mengingatkan, apabila kondisi ini terus dibiarkan, Indonesia berpotensi menghadapi krisis generasi akibat meningkatnya jumlah anak yang tumbuh tanpa pengasuhan keluarga yang utuh.
"Negara tidak boleh menganggap perceraian sebagai urusan privat semata. Diperlukan penguatan edukasi pranikah, perlindungan ekonomi keluarga, serta pemberantasan judi online dan penyakit sosial lainnya demi menjaga ketahanan keluarga Indonesia," tegas Toto Izul Fatah.
Editor : Tim Redaksi | Sumber : Pak Toto | Penulis : Deta



Tidak ada komentar:
Posting Komentar