• Jelajahi

    Copyright © Teras Indonesia News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    GNTV INDONESIA

    Iklan

    Logo

    Buya Yahya: Pendidikan Anak Dimulai dari Kesadaran dan ilmu orang tua menjadi pondasi utama dalam membentuk generasi berakhlak dan berilmu.

    Teras Indonesia News
    Dibaca: ...
    Last Updated 2025-11-01T03:42:28Z

    MAJALENGKA, TERAS INDONESIA NEWS||Ulama kharismatik Buya Yahya menegaskan bahwa pendidikan anak sejatinya tidak dimulai setelah anak lahir, melainkan jauh sebelumnya — dimulai dari kesadaran dan kesiapan orang tua. Pernyataan ini disampaikan dalam penjelasan beliau yang dimuat dalam buku bertema “Pendidikan Anak Dimulai dari Kesadaran Orang Tua”


    Dalam buku tersebut, Buya Yahya menekankan bahwa pendidikan anak adalah proses panjang yang berakar dari hati dan kesadaran setiap orang tua terhadap masa depan anak-anaknya.


    “Jika orang tua tidak memiliki kesadaran untuk mewujudkan harapan dan cita-cita anak di masa depan, maka mereka tidak akan melakukan langkah-langkah untuk menghantarkan anak kepada cita-citanya,” tulis Buya Yahya.


    Menurut Buya Yahya, ada dua kesadaran penting yang harus dimiliki setiap orang tua. Pertama, bahwa orang tua adalah pihak pertama dan utama yang bertanggung jawab atas pendidikan anak. Kedua, bahwa setiap orang tua harus menegaskan harapan dan visi masa depan anak-anak mereka.


    Kesadaran ini menjadi landasan dalam melahirkan generasi beriman, berakhlak, dan berilmu yang siap menghadapi tantangan zaman.


    Buya Yahya menjelaskan bahwa manusia berbeda dari binatang. Jika binatang berkembang biak karena fitrah naluri, manusia memiliki kemampuan berpikir, berencana, dan berharap terhadap masa depan keturunannya.


    “Manusia memiliki keturunan bukan sekadar untuk melanjutkan generasi, tetapi karena adanya harapan dan perencanaan tentang masa depan,” tegas beliau.


    Karena itu, pendidikan anak merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual dan moral umat manusia dalam membangun kehidupan yang lebih baik, di dunia maupun akhirat.


    Dalam buku tersebut, Buya Yahya menegaskan bahwa ilmu mendidik anak (parenting) tidak hanya penting bagi mereka yang sudah memiliki anak, tetapi juga bagi mereka yang belum menikah maupun yang tidak memiliki keturunan.


    “Pendidikan anak tidak dimulai saat anak terlahir, tetapi jauh sebelum itu,” tulisnya.


    Persiapan melahirkan generasi yang baik dimulai sejak niat untuk memiliki anak, termasuk dalam pemilihan pasangan hidup yang tepat.


    Buya Yahya mengingatkan pentingnya memilih pasangan yang saleh dan berakhlak baik. Dalam satu kisah, Khalifah Umar bin Khattab RA pernah menegur seorang ayah yang mengeluh atas perilaku buruk anaknya dengan berkata,


    “Apakah engkau telah memilihkan ibunya yang baik?”


    Kisah ini menegaskan bahwa pendidikan anak sudah dimulai sejak seseorang memilih pasangan hidup. Kesalahan dalam memilih pasangan berarti salah pula dalam memilih mitra mendidik anak.


    Setelah pernikahan, pendidikan anak berlanjut dalam rumah tangga. Buya Yahya menjelaskan bahwa rumah merupakan sekolah pertama bagi anak, di mana hubungan suami-istri yang harmonis, tutur kata lembut, dan pembiasaan adab menjadi kunci utama dalam pembentukan karakter anak.


    Beliau juga mengingatkan agar orang tua berhati-hati dalam mendidik. Kekerasan fisik dan verbal terhadap anak, meskipun dengan maksud mendidik, justru dapat merusak psikologis dan akhlak mereka. Karena itu, orang tua harus terus belajar dan memperdalam ilmu mendidik dengan kasih sayang dan kesadaran.


    Tahapan Pendidikan Anak Menurut Buya Yahya. Buya Yahya membagi tahapan pendidikan anak menjadi dua tahap besar:

    1. Pendidikan sebelum lahir, dimulai dari niat, doa, dan pemilihan pasangan yang baik.

    2. Pendidikan setelah lahir, yang terbagi dalam beberapa fase:

    Usia 0–2 tahun: pembiasaan doa, adzan, aqiqah, dan tutur kata lembut.

    Usia 2–7 tahun: orang tua menjadi teladan utama dalam perilaku.

    Usia 7–10 tahun: menanamkan tanggung jawab dan konsekuensi secara lembut.

    Usia 10–15 tahun: membimbing fitrah dan kecenderungan anak yang mulai tumbuh.

    Usia 15–18 tahun: mengenalkan cara menyikapi perasaan dan lawan jenis.

    Usia 18 tahun ke atas: masa kemandirian, di mana orang tua memberi keleluasaan sambil tetap mengarahkan dan menasihati.


    Membangun Generasi yang Berakhlak dan Beradab. Buya Yahya menegaskan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab sepanjang hayat, bukan sekadar rutinitas rumah tangga.


    “Pendidikan anak adalah perjalanan panjang yang dimulai dari hati orang tua yang penuh harapan, dan berakhir pada lahirnya generasi yang menjadi cahaya bagi peradaban,” tulis beliau.


    Pesan ini menjadi pengingat bahwa membentuk generasi yang kuat, beradab, dan beriman harus dimulai dari kesadaran orang tua — baik sebelum maupun sesudah anak dilahirkan.


    Sumber: Buku Buya Yahya | Penulis: Mr. Linardo

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini