TerasIndonesiaNews.com — Jakarta | Kamis, 13 Agustus 2026
Di tengah momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, menyoroti sikap pengusaha senior Pontjo Sutowo dalam menghadapi sengketa Hotel Sultan antara PT Indobuildco dan pemerintah.
Menurut Toto, sikap Pontjo Sutowo menunjukkan bahwa nasionalisme sejati justru diuji ketika kepentingan pribadi atau bisnis berhadapan dengan kekuasaan negara.
“Mempertahankan hak hukum bukan berarti melawan negara. Jika negara membutuhkan untuk kepentingan rakyat, silakan, tetapi prosesnya harus adil, transparan, dan taat hukum,” ujar Toto dalam wawancara edisi khusus, Kamis (14/8/2026).
Toto menilai, sikap tersebut memperlihatkan kedewasaan dalam membedakan pemerintah dan negara. Pemerintah dapat berganti seiring pergantian kekuasaan, sementara negara adalah rumah bersama yang harus dijaga oleh seluruh rakyat.
Ia juga menegaskan bahwa mempertahankan hak keperdataan melalui jalur hukum merupakan bagian dari prinsip negara hukum. Kritik terhadap kebijakan pemerintah pun tidak semestinya dianggap sebagai bentuk anti-negara atau anti-nasionalisme.
Bagi Toto, justru di situlah letak nasionalisme tingkat tinggi: mampu memperjuangkan hak dengan tegas tanpa kehilangan kecintaan terhadap Indonesia.
Sikap tersebut dinilai menjadi pelajaran penting bagi dunia usaha dan generasi muda bahwa nasionalisme bukan sekadar slogan, melainkan tercermin dari cara seseorang menghadapi konflik, menghormati hukum, dan tetap menempatkan kepentingan bangsa di atas segala kepentingan pribadi.
“Kekuasaan bisa berganti, sengketa bisa berakhir, tetapi kecintaan kepada NKRI harus tetap berdiri di atas segalanya,” menjadi pesan utama dari refleksi Toto Izul Fatah.
Editor : Tim Redaksi | Sumber : Toto Izul Fatah | Penulis : Deta



Tidak ada komentar:
Posting Komentar