TerasIndonesiaNews.com — Jakarta | Rabu, 19 Agustus 2026
Potensi gempa Megathrust Selat Sunda dengan skenario kekuatan hingga Magnitudo (M) 9,0 kembali menjadi perhatian. Dalam liputan khusus, Selasa (18/08/2026), Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, mengingatkan bahwa ancaman tersebut bukan untuk menebar ketakutan, melainkan risiko yang harus diantisipasi secara serius.
Menurut Toto, Jakarta merupakan pusat pemerintahan sekaligus urat nadi ekonomi nasional. Konsentrasi perbankan, pasar modal, perusahaan besar, pusat data, rumah sakit dan jaringan logistik membuat gangguan besar berpotensi menimbulkan dampak ekonomi berantai.
Jika gempa besar terjadi, kerusakan infrastruktur, terputusnya listrik dan telekomunikasi, terganggunya transportasi serta rantai pasok dapat menghentikan aktivitas ekonomi selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Kerugian tidak langsung berpotensi jauh lebih besar dibandingkan kerusakan fisik bangunan.
Toto menegaskan, informasi mengenai Megathrust bukan prediksi kapan gempa akan terjadi. Karena waktu terjadinya gempa belum dapat diprediksi secara akurat, fokus pemerintah dan masyarakat harus diarahkan pada kesiapsiagaan.
Sejumlah langkah mendesak antara lain memperkuat Disaster Recovery Center (DRC) untuk sektor keuangan dan pusat data, memastikan rumah sakit memiliki sistem darurat, serta melakukan audit ketahanan bangunan terhadap gempa.
Toto juga mendorong simulasi evakuasi, edukasi kebencanaan dan penguatan budaya mitigasi seperti yang diterapkan di negara-negara rawan gempa, termasuk Jepang.
“Yang harus dipikirkan bukan kapan gempa terjadi, tetapi seberapa siap kita menghadapinya,” menjadi pesan utama dalam analisis tersebut.
Kesiapsiagaan sejak dini dinilai menjadi kunci agar potensi bencana tidak berubah menjadi krisis ekonomi dan sosial berskala nasional, melainkan momentum memperkuat ketahanan bangsa.
Editor : Tim Redaksi | Sumber : Toto Izul Fatah | Penulis : Deta



Tidak ada komentar:
Posting Komentar